Sejarah Wheelchair Rugby dan Perkembangannya Dunia. Wheelchair rugby, olahraga kursi roda yang penuh kontak dan dinamika tinggi, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan semangat ketangguhan atlet dengan disabilitas. Diciptakan pada 1977 di Winnipeg, Kanada, oleh sekelompok atlet quadriplegia, olahraga ini awalnya bernama murderball karena sifat agresifnya. Tujuannya memberikan alternatif bagi wheelchair basketball, di mana atlet dengan keterbatasan fungsi tangan sering terpinggirkan. Kini, wheelchair rugby menjadi cabang Paralimpiade populer, dimainkan di lebih dari 40 negara, dengan variasi aturan yang semakin inklusif. Perkembangannya dari olahraga lokal menjadi kompetisi global menunjukkan bagaimana inovasi bisa membuka peluang bagi atlet dengan impairment berat. BERITA BASKET
Awal Mula dan Penyebaran Awal: Sejarah Wheelchair Rugby dan Perkembangannya Dunia
Wheelchair rugby lahir dari ide lima atlet Kanada, termasuk Duncan Campbell yang dijuluki “Quad Father”. Mereka ingin olahraga yang memungkinkan peran ofensif dan defensif setara bagi atlet tetraplegia. Pertama kali dimainkan dengan bola voli dan kursi roda sederhana, murderball cepat menyebar di Kanada dan Amerika Serikat pada akhir 1970-an. Pada 1989, turnamen internasional pertama di Toronto melibatkan tim dari Kanada, AS, dan Inggris Raya, menjadi tonggak kerjasama global.
Sepanjang 1980-an, turnamen lokal dan nasional bermunculan di berbagai negara. Pada 1990, olahraga ini tampil sebagai exhibition di World Wheelchair Games di Stoke Mandeville, Inggris, yang mempercepat popularitasnya. Pada 1993, dengan 15 negara aktif, International Wheelchair Rugby Federation (IWRF) didirikan, menandai pengakuan resmi sebagai olahraga disabilitas.
Masuk Paralimpiade dan Pertumbuhan Internasional: Sejarah Wheelchair Rugby dan Perkembangannya Dunia
Kejuaraan Dunia pertama digelar di Nottwil, Swiss, pada 1995, diikuti delapan tim. Tahun berikutnya, wheelchair rugby debut sebagai demonstration sport di Paralimpiade Atlanta 1996. Status medali penuh diraih pada Sydney 2000, dengan AS meraih emas pertama. Sejak itu, olahraga ini rutin hadir di Paralimpiade, dengan dominasi bergantian: AS (2000, 2008), Selandia Baru (2004), Australia (2012, 2016), hingga Jepang yang mencetak sejarah dengan emas pertama Asia di Paris 2024.
Perkembangan pesat membuat jumlah negara aktif mencapai lebih dari 30, dengan puluhan lain sedang membangun program nasional. Dibagi dalam zona Amerika, Eropa, dan Asia-Oseania, kompetisi zonal dan dunia digelar rutin. Variasi seperti wheelchair rugby 5s (diadopsi resmi 2021) dan low point rugby memperluas akses bagi atlet dengan impairment berbeda, termasuk dorongan inklusi perempuan melalui penyesuaian poin klasifikasi.
Status Terkini dan Masa Depan
Pada 2025, wheelchair rugby semakin global, dengan event seperti Asia-Oceania Championship dan persiapan Kejuaraan Dunia 2026. Negara seperti Jepang, Australia, AS, Inggris, dan Kanada tetap dominan, tapi negara berkembang seperti Afrika Selatan dan Brasil aktif menggelar program nasional. Fokus pada keselamatan, dengan kursi roda khusus dan aturan kontak ketat, membuat olahraga ini aman tapi tetap ekstrem.
Inisiatif seperti coaching clinic dan gender equity declaration menjanjikan pertumbuhan lebih inklusif. Wheelchair rugby kini bukan hanya kompetisi, tapi platform inspirasi bagi jutaan orang dengan disabilitas di seluruh dunia.
Kesimpulan
Sejarah wheelchair rugby dari murderball lokal di Kanada hingga olahraga Paralimpiade global membuktikan kekuatan inovasi dan ketangguhan. Dalam hampir lima dekade, ia berkembang dari alternatif sederhana menjadi cabang dengan lebih dari 40 negara peserta, membawa pesan bahwa disabilitas bukan penghalang untuk bersaing keras. Prestasi seperti emas Jepang di 2024 dan variasi aturan baru menunjukkan masa depan cerah. Wheelchair rugby terus menginspirasi, mengajarkan bahwa dengan semangat juang, batas bisa diatasi, dan olahraga bisa benar-benar inklusif bagi semua.
